Akhir-akhir ini orang-orang sering mempersalahkan orang tua atau para leluhurnya terdahulu karena suatu penyakit yang diderita. Orang tua atau para leluhur dianggap menurunkan penyakit kepada kita. Hal itu sering disebut sebagai penyakit keturunan. Benarkah penyakit keturunan sesederhana itu?

Mari kita tinjau terlebih dahulu apa yang sebenarnya sedang terjadi saat ini. Ketika kita membahas tentang penyakit keturunan, kita perlu pahami bahwa hal tersebut dapat dipengaruhi oleh gen yang diturunkan oleh orang tua. Gen yang diturunkan memiliki kecenderungan membawa sifat-sifat gen induk entah itu yang baik ataupun buruk terhadap kasus penyakit tertentu.

Konsep keilmuan umum saat ini memahami gen keturunan adalah data atau sifat yang dibawa pada DNA. Padahal konsep menurunkan sifat induk ke anak tidak hanya itu saja, tapi juga melalui pola hidup bersama. Artinya, ketika seorang anak memiliki sifat atau kondisi fisik yang sama dengan induknya berasal dari kebiasaan yang diturunkan dengan lingkungan yang sama.

Awalnya, pada anak tidak muncul tanda-tanda atau gejala-gejala penyakit yang sama sebagaimana orang tua atau leluhurnya. Namun pada usia tertentu, tanda-tanda penyakit mulai muncul. Apa yang menyebabkan penyakit tersebut dapat muncul? Bukankah jika suatu penyakit adalah penyakit keturunan harusnya muncul sejak dini karena tertanam di dalam DNA? Bukankah saat dini imunitas anak masih lemah sehingga semestinya penyakit lebih mudah muncul?

Ternyata, bukan hanya DNA yang berpengaruh terhadap penyakit keturunan. Karena DNA dapat dimodifikasi atau diedit. Sikap dan perilaku sehari-hari juga sangat mempengaruhi munculnya penyakit. Jadi bukan hanya DNA yang diwariskan, melainkan sikap dan mindset juga diwariskan. Sikap dan mindset tersebut yang menentukan apakah seorang anak memiliki penyakit yang sama dengan leluhurnya atau tidak. Karena seorang anak hidup sehari-hari bersama orang tuanya, tentu mindset dan sikap orang tua sangat mendominasi perkembangan anak. Mindset dan sikap orang tua yang memiliki penyakit tertentu itulah yang menurun kepada anak, beserta penyakitnya.

Mindset dan perilaku dapat kita tentukan. Perubahan mindset dan kebiasaan tentunya juga mengubah DNA kita pada bagian tertentu. Dengan mengkondisikan mindset dan kebiasaan kita, maka tentunya kita tidak akan memiliki penyakit keturunan.

Bagaimana cara pengkondisian mindset dan kebiasaan? Bagaimana metode menghindari dan menyembuhkan penyakit keturunan?

Silakan Anda baca pada posting-posting berikutnya, atau silakan datang untuk konsultasi/diskusi di Rumah Sehat dan Bahagia Toms Hepi.