Pada tulisan ini saya akan menceritakan pengalaman saya MENGALAMI SARAF TERJEPIT yang RELATIF CUKUP PARAH yang membuat saya tidak mampu berjalan. Nyeri yang sangat menyakitkan saya rasakan di bagian punggung dan kaki, sehingga untuk berpindah tempat, saya terpaksa harus MERANGKAK, menahan sakit. Sebelumnya saya tidak pernah mengalami saraf terjepit, sehingga bagi saya terasa sangat berkesan. Saya mendapat banyak pelajaran dari kejadian ini sehingga saya rasa ada baiknya saya tuliskan di sini.

Cerita ini bermula ketika saya sedang membersihkan gudang saya, tepatnya pada 12 Mei 2020. Saya mengangkat sekotak buku yang cukup berat dengan tumpuan yang salah. Seketika itu juga saya merasakan “klek”, pergeseran di bagian punggung bawah saya sebelah kiri, yang kemudian rasa nyeri dan semacam “nyetrum” yang menjalar sampai ke bagian paha kiri saya. Rasa sakit itu tidak singgah sesaat, namun ia tetap tinggal di sana. Rasa sakit itu semakin menjadi ketika saya menggerakkan kaki kiri saya, bahkan untuk sekedar mengangkat atau melangkah sedikit saja.

Saya telah belajar teknik reposisi sendi, sehingga saya sadar bahwa saya terkena SARAF TERJEPIT di bagian punggung bawah. Dalam istilah barat, ini sering disebut sebagai Lower Back Pain. Karena pada hari itu saya sedang mengerjakan pekerjaan penting, maka saya mengabaikan saja rasa sakit itu. Saya pikir tidak parah, akan hilang apabila saya melakukan sedikit streching dan istirahat yang cukup. Ternyata pada malam harinya saya kesulitan untuk tidur. Bagaimanapun posisi tidur yang saya pilih, kaki saya nyeri bukan main. Bisa dikatakan seperti kesetrum, atau cenut-cenut, disertai rasa semacam panas atau terbakar di dalam paha kiri saya.

Keesokan harinya, 13 Mei 2020, dengan susah payah saya pergi ke Toms Hepi Wellness Center untuk menjalani terapi, mengerahkan sisa tenaga sambil menahan rasa sakit yang cukup meruntuhkan semangat. Setelah dilakukan diagnosis, ternyata saraf terjepit yang saya alami cukup parah. Master Tomy Aditama melakukan diagnosis pada tulang belakang saya, terkait saraf terjepit yang saya alami, kemudian beliau melakukan terapi pada tulang belakang saya. Menurut perhitungan Master Tomy, saraf terjepit yang saya alami akan sembuh pada Minggu, 17 Mei 2020. Artinya, saya mengalami saraf terjepit selama 5 hari. Bagaimanapun caranya, saya harus sembuh pada 17 Mei karena ada banyak program-program kegiatan penting yang sedang saya kerjakan bersama sahabat-sahabat di Toms Hepi Wellness Center.

Saya tidak mampu lagi untuk berjalan, saya harus merangkak. Sakit yang saya rasakan cukup menguras energi saya. Tidur pun tidak nyaman. Semua sahabat terapis Toms Hepi Wellness Center (yang dipimpin oleh Aris M. Saifullah, dibantu oleh Muhammad Nurhadi dan Syarif Hidayat) bergantian melakukan terapi reposisi sendi kepada saya sesuai dengan program penyembuhan yang telah dirancang. Saya harus rawat inap. Dalam sehari, saya diterapi 3 kali.

Saraf Terjepit Membuat Turun Semangat dan Fokus Pikiran.

Ada metode-metode untuk menjaga semangat, dan meningkatkan fokus pikiran. Kita bisa melakukan meditasi ataupun meminum herbal tertentu untuk membantu meningkatkan semangat dan fokus pikiran. Kita bisa tetap menjaga emosi agar tetap tenang dan bahagia. Namun praktik meditasi dan meminum herbal tidak dapat melepas saraf yang terjepit. Walaupun melakukan meditasi, saraf terjepit tetaplah terjepit. Nyeri tetaplah nyeri. Rasa sakit tetaplah sakit walaupun kita mampu mengendalikan emosi kita untuk tetap tenang. Sebagian energi kita dibakar untuk rasa sakit ini. Untuk melepaskan saraf yang terjepit, haruslah dilakukan terapi fisik, yaitu reposisi sendi. Struktur tulang belakang saya, terutama bagian yang membuat sendi terjepit, harus dikembalikan ke posisi yang seharusnya. Ini harus dilakukan dengan cara reposisi, tidak bisa dengan hanya meminum herbal atau hanya meditasi.

Hari kedua rawat inap di Toms Hepi, saya sudah mulai bisa berjalan kembali, walaupun masih terasa sakit. Terapi reposisi, yang biasanya bagi orang normal tidak terasa sakit, ternyata bagi yang mengalami saraf terjepit seperti saya, rasa sakitnya bukan main. Sahabat-sahabat terapis di Toms Hepi sudah sangat sering menangani pasien saraf terjepit, dan mengerti persis cara penanganan untuk berbagai jenis saraf terjepit. Selain profesional dan memiliki jam terbang tinggi di bidang terapi reposisi, sahabat-sahabat terapis Toms Hepi semuanya sudah pernah mengalami merasakan sendiri saraf terjepit. Itulah mengapa perihal saraf terjepit bukan hal yang mengherankan atau mengkhawatirkan, namun sangat penting untuk diperhatikan.

Bercucuran Keringat dan Air Mata

Dalam jeda waktu di antara sesi terapi fisik, saya iseng-iseng melakukan searching di google. Rata-rata saraf terjepit sebagaimana yang saya alami, apabila ditangani secara medis akan memakan waktu berbulan-bulan untuk sembuh. Belum lagi biaya medis untuk penanganan saraf terjepit relatif mahal. Apalagi apabila divonis harus operasi. Namun Master Tomy mengatakan saya akan sembuh dalam 5 hari saja. Dengan jadwal terapi reposisi 2 sampai 3 kali sehari (terapi yang sangat menyakitkan, harus bercucuran keringat dan air mata), dan aktivitas olahraga pelenturan sendi, saya sembuh pada Minggu 17 Mei 2020, tepat sesuai dengan yang dikatakan Master Tomy. Prediksi durasi 5 hari yang dikatakan Master Tomy tersebut tidak serta-merta begitu saja. Tidak semua pasien dapat diperlakukan seperti itu, karena tidak semua kuat untuk menerima rasa sakit ketika terapi. Jenis dan rancangan program penyembuhan harus disesusaikan dengan kondisi pasien dari hasil diagnosa secara berkala.

Saat sedang santai saja sakitnya bukan main. Apalagi ketika sedang direposisi. Rasa sakit itu semakin menjadi. Namun bagi saya, rasa sakit itu tidak masalah. Sakit sebentar tidak apa-apa daripada harus kesakitan terus-menerus selama berbulan-bulan. Selama diterapi, saya berteriak-teriak karena memang sakit. Namun terapi harus tetap dilakukan dan tidak perlu kasihan karena dengan terapi yang cenderung keras itulah, proses penyehatan menjadi lebih cepat.

Selama saya menjalani rawat inap di Toms Hepi, setiap hari saya melihat berbagai pasien datang untuk menjalani terapi saraf kejepit. Saya merasa bersyukur, karena ternyata banyak orang yang mengalami kasus saraf kejepit jauh lebih parah daripada saya. Bahkan ada pasien yang tidak bisa berdiri. Digerakkan sedikit saja suda merasa kesakitan. Dengan terapi yang reguler, ditangani oleh terapis spesialis yang berpengalaman, berbagai macam kasus saraf kejepit tersebut dapat diatasi.

Saya sangat bersyukur, karena ketika saya mengalami saraf terjepit, saya sudah mengenal Toms Hepi. Bagaimana jika ada orang yang mengalami saraf terjepit dan tidak mengenal terapi seperti ini?  Bisa jadi sakitnya semakin parah karena tidak tahu harus ke mana. Bisa jadi memilih membayar mahal untuk operasi.

–Joseph