Agustus menjadi bulan yang identik bagi bangsa Indonesia. Terusirnya penjajah dari bumi nusantara, dan berdirinya Indonesia sebagai negri merdeka terjadi pada bulan Agustus. Kibaran sang Panji merah putih seraya memenuhi langit Nusantara. Slogan “Merdeka!” lantang menggema di seantero Jamrud Khatulistiwa.

Indonesia menjadi bangsa yang merdeka, negara yang mandiri. Berdiri di atas hamparan pulau-pulau dipayungi hangat terik sang mentari. Namun, Ibu Pertiwi tengah meneteskan air mata karena terserang badai pandemi. Covid-19 seakan enggan meninggalkan bumi yang indah nan permai. Setahun lebih pandemi tak usai menjajah dan menduduki tanah air tercinta ini. Agustus kali ini harusnya menjadi momen kemerdekaan yang sejati, pandemi lenyap dari Tanah Surgawi, dan Indonesia bisa terus bersaing meningkatkan ekonomi.

Merdeka tak hanya soal berbicara, maupun memeluk agama. Merdeka juga bukan hanya dalam berorganisasi maupun bernegara. Namun yang terpenting menjadi insan yang merdeka seutuhnya. Tak hanya dalam pikiran, pekerjaan, dan kepercayaan, namun dalam urusan kesehatan pun kita harus mencapai titik kemerdekaan.

Lalu bagaimana cara agar kita dapat selalu sehat dan merdeka?

Pandemi menimbulkan perasaan takut, cemas, dan sedih yang berlebihan. Perasaan takut, cemas, dan sedih hanya akan menambah beban perasaan dan pikiran. Perasaan dan pikiran yang terlalu berlebihan mengakibatkan energi dan darah yang terus mengalami penurunan, sehingga melemahkan sistem kerja organ.

Ketika organ terus melemah dan mengalami penurunan, penyakit mudah datang dan menghampiri. Lalu bisakah kita disebut sehat dan merdeka?, tentu tidak. Karena kita masih terbelenggu oleh masalah kesehatan yang kita alami.

Sehat dan merdeka bermula dari dalam diri. “Apa yang tampak di luar adalah proyeksi dari dalam diri pribadi”, ungkap Suhu Tomy. Perasaan menjadi kunci untuk mewujudkan kemerdakaan dalam kesehatan, karena tanpa kita sadari bahwa selama ini perasaan kita lah yang membelenggu diri kita sendiri.

Perasaan yang tengah kacau membuat proses berpikir kita terhambat, tugas dan pekerjaan jadi melemah dan melambat. Akhirnya penghasilan kita pun juga ikutan tersumbat. Itulah yang tengah dirasakan oleh kebanyakan masyarakat.

Toms Hepi Wellness Center memiliki cara unik dan menarik yang bisa dijadikan acuan. Suhu Tomy Aditama sering mengisyaratkan betapa pentingnya meditasi untuk meringankan beban perasaan. Meditasi tarik nafas dari hidung dan mengeluarkannya dari mulut teruji dapat membantu meringankan beban yang membelenggu perasaan dan pikiran. Tidak banyak waktu yang termakan, cukup 5 menit dalam sehari, asalkan rutin dikerjakan. Lalu, biarkan tubuhmu sendiri yang merespon dan merasakan. Tenang, rileks, dan melegakan.

Ketika perasaan kita tenang dan stabil, maka proses berpikir kita pun jadi cepat, mudah dan menyenangkan.  Beraktifitas jadi ringan, bekerja jadi semakin giat dan penuh semangat, serta penghasilan pun terus meningkat. Pada akhirnya kita menjadi insan yang benar-benar merdeka. Perasaan merdeka, pikiran merdeka, pendapatan merdeka, tubuh pun mencapai titik kesehatan yang sesungguhnya. Amin.

Dirgahayu negriku. Merdeka bangsaku. Jayalah tanah airku.

Dari Toms Hepi Wellness Center untuk kemerdekaan RI ke-76.

Salam Sukses, Sehat, dan Bahagia.

 

 

Penulis :
Muhammad Taqwim L.