Selain teknologi, pendidikan, pola sosial, dan segala macamnya itu, salah satu produk kebudayaan yang bersifat dinamis dalam laju sebuah peradaban adalah makanan. Kita boleh melompat ke satu abad lalu, dan tentu tidak akan kita temukan berbagai makanan aneh seperti yang dijajakan pada hari ini. Makanan-makanan pada hari ini memang terkesan menggiurkan dan menggugah selera, tetapi sarat dengan racun jangka lama. Berbeda dengan para moyang kita ratusan tahun lalu, di mana makanan dan minuman mereka benar-benar terjaga karena kandungan zat yang masih murni. Bahkan secara esensi, beliau-beliau juga benar-benar memahami apa yang mereka makan. Tentu bukanlah suatu keajaiban jika manusia-manusia di masa lalu bisa panjang usia. Karena mereka juga memahami pola keseimbangan hidup, atau Yin Yang, salah satunya dalam hal makanan.

Secara umum, tentunya sudah banyak yang memahami, jika Yin Yang adalah sebuah konsep filosofis yang diciptakan leluhur China sejak ribuan tahun lalu. Pemaknaan atau intisari dari konsep itu tentu sudah ada pula di tempat lain dengan nama berbeda. Namun, konsep Yin Yang-lah yang pada saat ini dikenal banyak orang, dan dipahami secara populer sebagai konsep keseimbangan. Keseimbangan dalam pengertian di sini adalah suatu hal yang tidak dapat berdiri sendiri dan memiliki pengaruh satu sama lain untuk mencapai keselarasan.

Secara naluriah, kita sudah menerapkan konsep keseimbangan dalam bentuk paling sederhana, yang mungkin tidak kita sadari secara penuh. Kita segera beranjak ke dapur dan melakukan ekspansi atas semua yang ada di meja makan saat perut kosong. Kita dengan sigap membentangkan selimut ke sekujur tubuh dengan mata yang masih tertutup karena dinginnya udara di pagi hari. Kita mencari penghiburan bagi hati yang patah saat mengetahui sang gebetan mengunggah foto bersama kekasihnya.

Namun, dalam hal makanan, kita mesti benar-benar paham konsep keseimbangan di dalamnya, karena segala yang masuk (tentu saja makanan, bukan kursi atau meteor) melalui mulut dan berakhir di lambung akan memengaruhi kinerja sistem tubuh.

Bagaimana konsep Yin Yang pada makanan?

Suhu Tomy Aditama, salah satu pakar herbal dan pemberdayaan diri, memberi klasifikasi untuk jenis makanan dan minuman yang sehari-hari kita konsumsi.

“Makanan atau minuman memiliki sifat-sifat tersendiri. Ada 4 sifat secara garis besar; panas, dingin, kering, lembap,” jelasnya.

Founder sekaligus Owner Toms Hepi Wellness Center ini juga menjelaskan, sifat-sifat makanan dan minuman tersebut harus disesuaikan dengan kebutuhan tubuh. Kebutuhan tubuh sendiri, berkaitan pula dengan faktor-faktor eksternal seperti tempat dan suhu/cuaca.

Kita dianjurkan untuk tidak mengonsumsi semangka saat sedang di gunung karena buah semangka sudah bersifat lembap. Jika kita memaksakan diri mengonsumsi semangka atau buah lain yang berkadar air tinggi pada saat demikian, maka yang terjadi adalah ketidakseimbangan. Secara cepat atau lambat, hal itu memberi dampak pada tubuh berupa gejala dingin, meriang, atau bahkan dampak jangka panjang. Sebaliknya, di daerah yang dingin, kita dianjurkan mengonsumsi makanan atau minuman yang bersifat panas seperti gulai kambing atau jahe panas.

“Di mana-mana, yang namanya es bersifat dingin. Api itu panas. Kalau kedinginan, maka harus kita panaskan. Kalau kepanasan, harus kita dinginkan. Jangan minum jahe panas saat badan kepanasan. Itulah hukum keseimbangan alam. Orang Cina menyebutnya Yin Yang. Seimbang bersifat berpasang-pasangan dan saling melengkapi,” ungkap beliau mengenai konsep Yin Yang.

Begitu pula dalam hal menentukan makanan yang siap kita konsumsi.

“Jangan makan hanya satu jenis makanan. Makanlah berbagai jenis makanan. Entah itu sayur, buah-buahan, daging atau biji-bijian. Kita jangan membatasi makanan hanya pada sayur saja, atau buah-buahan saja. Kita juga harus makan daging,” jelas Suhu Tomy.

Menurutnya, hal itu cukup penting, karena manusia dikategorikan sebagai makhluk omnivora yang mengonsumsi nabati dan hewani. Sejak lahir, kita sudah dibekali anggota tubuh yang bisa mengolah berbagai jenis makanan. Gigi taring, misalnya, berfungsi untuk mengoyak daging, dan geraham untuk menghaluskan makanan.

Berbicara mengenai daging, ini ada tips mengonsumsi daging kambing. Daging kambing merupakan pengisi darah dan energi yang sangat cepat, oleh karena itu ketika mengonsumsi daging kambing sebaiknya disertai dengan banyak merica dan bawang merah. Hal tersebut berfungsi mengoptimalkan kinerja pencernaan. Dan sebaiknya setelah makan daging kambing, ditutup dengan minum teh panas, atau air hangat.

Pada dasarnya, segala macam makanan dan minuman dapat dikonsumsi dengan pertimbangan tertentu sesuai dengan kebutuhan tubuh, tanpa mengabaikan aspek keseimbangan di dalamnya.

Mari, nyate kambing …

 

 

Penulis:

Reddy Suzayzt