Kedokteran timur adalah salah satu teknik pengobatan yang sudah ada kurang lebih sejak 4000-5000 tahun yang lalu. Menurut kedokteran timur kesehatan seseorang ditentukan oleh kemampuan dalam mempertahankan keseimbangan dan keselarasan alam/lingkungan dalam tubuh manusia, baik dari pengaruh faktor internal maupun eksternal. Penyakit akan timbul jika keseimbangan dalam tubuh terganggu, dan tubuh tidak mampu menyelaraskanya. Prinsip keseimbangan dan keselarasaan tersebut tercermin dalam prinsip “YIN-YANG” dan Wuxing.

Contoh keseimbangan yang mudah dipahamai bahwa semua yang ada di alam semesta ini diciptakan berpasang-pasangan (Panas-dingin; siang-malam; pria-wanita; atas-bawah).
Banyak sekali faktor-faktor baik internal maupun eksternal yang mempengaruhi keseimbangan dalam tubuh manusia, misalnya:

Faktor internal    : Stress karena beban pikiran yang menumpuk, emosi yang tek terkontrol,dll.
Faktor eksternal : Cuaca(Angin, Lembab, Panas, Dll), Makanan yang kita konsumsi.

Konsep keseimbang ini pernah disampaikan oleh Rasulullah SAW, sebagai pelajaran bagi umatnya. Dalam shahih Al-Bukhari dan Muslim diriwayatkan dari Abdullah bin Ja’far, Ia menceritakan bahwa: Aku pernah melihat Rasulullah SAW menyantap timun dengan kurma masak. Dan hadist yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi dari Nabi SAW bahwa beliau pernah makan semangka dicampur dengan kurma muda yang sudah masak, beliau (Rasulullah SAW) bersabda,”Panas di buah ini (kurma) dinetralisir oleh unsur dingin di buah ini (semangka)”.

Apakah pelajaran yang bisa dipetik dari hadist di atas? Ada 2 kata sebagai kata kuncinya. “panas” dan “dingin”. Kedua kata tersebut adalah anonim/lawan kata yang sifatnya beranti-pati. Panas dan dingin merupakan hukum alam, dimana jika unsur panas lebih dominan daripada unsur dingin, atau unsur dingin lebih dominan dari pada unsur panas, maka akan terjadi ketidakseimbangan.

Jika ketidakseimbangan itu terjadi pada tubuh, maka tubuh akan sakit. Jika unsur panas dan dingin seimbang, maka tubuh akan sehat. Itulah yang diterapkan oleh Rasulullah SAW dalam mengatur pola makan. Walaupun jenis makanan yang dikonsumsi beragam, beliau juga memperhatikan keseimbangan unsur atau kadar gizi makanannya, bukan hanya soal kandungan makanannya tapi lebih mengutamakan karakter bawaan utama atau fitrah dari jenis makanan itu sendiri.

 

 

Penulis:

Moh.Nurhadi