Suatu hari ada seorang klien datang ke tempat terapi kami. Beliau seorang bapak berumur 50 tahunan mengalami saraf kejepit. Dalam beberapa kali terapi, beliau sudah tidak lagi merasakan sakit di punggungnya. Selang 3 minggu, klien terebut datang lagi dan mengaku punggungnya sakit lagi seperti dulu. Kami pun terapi dan klien sudah sehat lagi. Namun, hal itu tidak berlangsung lama karena seminggu setelah itu penyakit klien kambuh lagi. Dengan sedikit rasa heran kami kembali menerapi klien tersebut dan sembuh. 2 hari setelah itu klien yang sama mengeluh sakit lagi. Hal ini berulang sampai 3 kali.
Kami yang keheranan segera berdiskusi panjang lebar dengan klien tersebut untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Setelah ditelusuri, ternyata klien tersebut sedang ada konflik di dalam keluarganya sendiri. Selama sebulan terakhir si klien sering marah-marah kepada istrinya, dan beberapa hari terakhir emosi marah si klien sedang puncak-puncaknya. Sekarang menjadi jelas sebab kondisi klien yang sering kambuh saraf kejepitnya.
Kondisi fisik manusia pada dasarnya berkaitan erat dengan kondisi psikis. Emosi yang muncul pada diri kita akan mempengaruhi pada seluruh atau sebagian dari organ dan tubuh kita. Pada kasus diatas, emosi marah memberikan dampak pada seluruh otot tubuh terutama pada otot jaringan tulang belakang. Seluruh otot akan berkontraksi dengan penuh. Area otot yang paling mudah diamati yaitu leher, pundak, punggung, sampai ke diafragma. Kita lebih mudah mengenalinya sebagai tegang. Dalam kasus tertentu,emosi marah dapat menggetarkan otot.
Kita ketahui bersama bahwa stabilitas tulang belakang dijaga oleh otot-otot disekelilingnya. Apabila sendi tulang belakang tidak kuat atau ada kecenderungan posisinya bergeser, kemungkinan besar sendi tulang belakang akan tertarik oleh otot-otot disekelilingnya dan cenderung terjadi dislokasi. Lambat laun, dislokasi tersebut menjadi penyebab terjadinya HNP (Hernia Nukleus Pulposus) atau sering dikenal dengan istilah saraf kejepit.